Destiny4us’s Weblog

KWAN KONG

Posted by: destiny4us on: Novpm08 5,2008

kwankong1

Kwan Kong lahir pada tahun 162 Masehi, Bulan 6 Tanggal 24 Imlek di Propinsi Shan Shi jaman Sam Kok (Tiga Kerajaan).

Ayah Kwan Kong bernama Shi Pan, alias Bun Ci, kakek Kwan Kong bernama I Gee alias Too wan.

Kwan Kong memiliki tinggi 9 kaki 6 cun atau 240 cm. Nama asli Kwan Kong adalah Kwan In Tiang atau Kwan Ie, Kwan Kong meninggal pada usia 58 tahun.

Kwan kong mengangkat saudara sehidup semati dengan Lau Pie atau Hian Tik dan Thio Hui atau Ik Tik di kebun persik milik Thio Hui.

–>

Mereka bersujud kehadirat Thian, Tuhan Yang Maha Kuasa dengan bersama-sama mengucapkan, “kami Lau Pie, Kwan Ie, dan Thio hui bertiga, biarpun kami bertiga berlainan marga dengan setulus hati kami berjanji terikat sebagai kakak dan adik, dengan bersatu hati percaya pada tenaga akan menolong masyarakat dari penderitaan dan membebaskannya dari bahaya, ke atas melindungi negeri dan ke bawah menyelamatkan rakyat banyak. Tuhan Yang Maha Besar, Maha Esa dan Tho Thi Malaikat Bumi, menyaksikan kesungguhan hati kami. Bila kami mengingkari kebenaran dan melupakan kasih Tuhan Yang Maha Esa dan manusia akan menghukumku”. Dari sinilah mereka terkenak dengan 3 serangkai atau Too Wan Kiat Gie, sejak kecil Kwan Kong Senang membaca dan mempelajari kitab-kitab suci dari Nabi Khong Cu, seperti Kitab I Ching ( Kitab tentang kejadian dan Perubahan ) dan Kitab Chun Chiu ( Kitab tentang Sejarah musim semi dan musim rontok ).

Kwan Kong hidup berbakti, rendah hati, setia, dapat dipercaya , susila, menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, suci hati, tahu malu, inilah sikap Kwan Kong dengan 8 jalan kebajikan yang selalu di dekap teguh dalam perilaku budi kebajikan dari mana datangnya tidak akan dilupakan. Dengan sifat-sifat inilah orang banyak menghormati dan memujanya maka jadilah Panglima Kwan Kong sebagai lambang Kesetiaan dan Kejujuran sepanjang jaman.

Dibawah ini ada menceritakan Kesetiaan dan bagaimana Kwan Kong tahu membalas Budi (Kisah di Sam Kok / Tiga Kerajaan). Cao Cao pada waktu itu makin hari kekuatan tentaranya makin kuat dan berkuasa, sampai-sampai kaisar pun harus memperoleh ijin terlebih dahulu padanya apabila akan menemui seseorang.

Cao Cao berusaha menyingkirkan Lau Pie (Liu Pei kakak angkat Kwan Kong) yang dianggap Cao Cao duri dalam dagingnya, maka Cao Cao menggempur Kota Liu Pei, Liu Pei dan Thio Hui adik Kwan Kong berusaha menahan serbuan pasukan Cao Cao karena pasukan Cao Cao yang sangat banyak waktu itu maka Liu Pei dan Thio Hui melarikan diri dengan cara berpencar diikuti oleh tentaranya, lalu Cao Cao mengerahkan pasukannya menggempur kota yang dijaga Kwan Kong. Di kota ini ada keluarga Liu Pei karena tentara yang dimiliki Kwan Kong kalah banyak jumlahnya membuat Kwan Kong terkepung di sebuah bukit.

Cao Cao yang telah lama mengagumi pribadi Kwan Kong berusaha menarik Kwan Kong agar mau pindah berpihak kepadanya, menyadari resiko dan tanggungjawabnya akan keselamatan keluarga Liu Pei Kakaknya, Kwan Kong memutuskan menyerah tapi dengan syarat bahwa walaupun untuk Cao Cao Ia tetap setia pada Kakaknya Liu Pei. Dan begitu tau dimana Kakaknya Liu Pei berada, ia akan segera pergi untuk bergbung dan meninggalkan Cao Cao. Mendengarkan syarat ini mula-mula Cao Cao ragu-ragu menerima syarat tersebut, tapi Cao Cao beranggapan bahwa apabila ia berubah baik dan melayani dengan baik, tentu akhirnya Kwan Kong akan memihaknya dan melupakan Liu Pei Kakaknya.

Begitulah Kwan Kong bersama-sama Cao Cao dan Cao Cao melayani dengan baik dan manis sekali untuk mengambil hati Kwan Kong, Cao Cao sengaja hanya menyediakan satu kamar untuk Kwan Kong dan Isteri Liu Pei, tapi Kwan Kong tetap teguh dengan dibiarkan kamar itu ditempati Isteri Kakaknya, sedangkan Kwan Kong sendiri menjaga di depan pintu dengan golok terhunus sambil membaca Kitab Suci Chun Ciu dari Nabi Khong Cu.

Cao Cao memberikan baju kebesaran untuk Kwan Kong karena Cao Cao melihat baju Kwan Kong sudah tua dan lusuh, Kwan Kong membuka baju yang lama dengan memakai baju yang baru pemberian Cao Cao, setelah itu Kwan Kong memakai baju yang lama kembali. Ketika itu Cao Cao heran dan bertanya, mengapa Saudara Kwan memakai kembali baju yang lama? Lalu Kwan Kong menjawab “baju tua ini adalah pemberian dari Kakak angkatku, walaupun Aku ini mengenakan baju baru dari pemberian Perdana Menteri Cao Cao tidak seharusnya saya melupakan budi baik Kakakku”. Hadiah-hadiah seperti emas, perak, dan perhiasan-perhiasan mahal lainnya, juga banyak wanita-wanita cantik yang diberikan oleh Cao Cao kepada Kwan Kong, tapi semua Kwan Kong tolak dengan halus dan tidak menerimanya dengan ini semua Kwan Kong dapat menjaga budi pekertinya dan kesusilaan sehingga dia disegani dan di kagumi oleh lawan-lawannya.

Semua ini Cao Cao lakukan untuk membujuk dan mengambil hati Kwan Kong. Terakhir Cao Cao memberikan kuda untuk Kwan Kong yang bisa berlari cepat dan sangat kuat. Kuda ini disebut Kelinci Merah (Cek Tou Ma), bisa berjalan 1000 Li dalam 1 hari. Seketika itu Kwan Kong berlutut dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Cao Cao. Cao Cao heran dan bertanya, “Aku telah menghadiahkan banyak barang berharga kepada Jenderal Kwan, tapi semua Jenderal menolak, kenapa hanya seekor kuda sampai Jenderal berlutut dan mengucapkan terima kasih kepadaku? Sungguh sangat aneh dan membuatku heran”. Kwan Kong menjawab, “Barang lain walau bagaimanapun berharganya, aku tidak pedulikan. Tapi, dengan memiliki kuda ini, begitu aku mendengar dimana Kakakku Liu Pei berada, aku dapat dengan cepat pergi untuk menemuinya”. Mendengar hal ini Cao Cao sangat menyesal. Disinilah kita dapat melihat kesetiaan dari Kwan Kong.

Kwan Kong membalas budi dan kebaikan Cao Cao atas saran penasehat Liu Pei yaitu Cu Kat Liang (Kong Beng). Liu Pei bergabung bekerja sama dengan Sun Koan untuk melawan Cao Cao, pada waktu itu armada Cao Cao yang besar hancur oleh Ciu Cie Panglima dari Sun Koan yang dibantu oleh Khong Beng penasehat Liu Pei, Cao Cao kalah perang dan lari dari kejaran musuhnya yaitu panglima-panglima dari Liu Pei yang sudah diatur perhadangan oleh penasehat Khong Beng. Dan waktu Cao Cao lari tiba di tempat yang dijaga ketat oleh Kwan Kong, dan Cao Cao tidak bisa lari lagi karena pasukannya sudah sisa sedikit dan sangat letih.

Cao Cao melihat Kwan Kong dihadapan dan menghadangnya, Cao Cao langsung turun dari kuda dan berlutut mohon diampuni dan dia dibiarkan untuk lewat. Cao Cao berkata, “Pasukanku dalam keadaan susah, aku dalam keadaan putus asa. Aku sudah tidak ada jalan keluar, aku berharap Jenderal Kwan mau mengampuni dan berkenan mengingat hal-hal yang telah lewat diantara kita berdua”.

Jenderal Kwan menjawab, “Biarpun masa lalu aku menerima banyak budi dari Perdana Menteri, tapi aku sudah membayar budi itu dengan membantu anda dalam peperangan. Tapi, kini aku dibawah perintah dan tidak bebas melakukan kehendakku”.

Cao Cao bermohon lagi dan berkata kepada Jenderal Kwan, “Engkau adalah seorang susilawan yang selalu berpikir tentang keadilan-keadilan kemuliaan hati sepanjang hidup”, dan Cao Cao mengingatkan budi baiknya kepada Kwan Kong. Tatkala Panglima Kwan mendengar kata-kata dari Cao Cao itu, ia menundukkan kepada dan diam. Kwan Kong adalah seorang yang mencintai keadilan dan kebenaran seperti ia mencintai hidupnya. Mengingat semua itu dimana Cao Cao pernah melepas budi kepada Kwan Kong, akhirnya Kwan Kong melepaskan Cao Cao musuhnya itu sebagai balasan atas perlakuan baik pada dirinya di masa lalu, walaupun Kwan Kong harus menerima hukum militer atas perbuatannya melepaskan Cao Cao bebas. Inilah watak sejati yang ditunjukkan oleh Kwan Kong; setia, jujur dan tahu balas budi.

Di dalam roman sejarah yang ditulis Lo Kuan Chung terpetik suatu lukisan tentang kemuliaan dan keperwiraan Panglima Kwan. Pada waktu itu Kwan Kong masih prajurit rendah bersama Liu Pei dan Thio Hui dan dibawah pasukan Komandan Kong Sun Can yang bersekutu dengan Cao Cao dan Wan Siau.

Dibawah tangga seseorang maju sambil berseru, “Perkenankanlah saya maju, akan kupenggal kepada Hwan Hiong dan kubawa kembali ke kemah”. Hwan Hiong adalah Jenderal yang sudah banyak membunuh panglima-panglima dari Wan Siau. Orang-orang berpaling dan melihat di depan tenda berdiri seorang yang bertumbuh tinggi besar dengan jenggot panjang, matanya bagai burung Phonix (Hong) dan alisnya bagai ulat sutera berbaring, wajahnya merah bagai buah Angco (kurma merah) yang masak, suaranya dalam bagai lonceng. Wan Siau bertanya, “Siapakah perwira itu?” dan Kong Sun Can memberitahukan bahwa dia adalah saudara angkat Liu Pei (Lau Pi). Wan Siau bertanya tentang pangkatnya dan dijawab oleh Kong Sun Can bahwa dia adalah seorang prajurit pemanah rendah dibawah komando Liu Pei.

Wan Siok adik Wan Siau berteriak, “Engkau mengecok kami? Engkau pikir tidak ada seorang Jenderal pun untuk tampil keluar? Betapa seorang pemanah berani menyombongkan diri secara liar. Usir orang itu dengan puntung!”. Tapi Cao Cao cepat-cepat menahannya dan berkata, “Jangan marah! Orang yang berani omong dan tampil, mestinya punya kemampuan tertentu. Biarlah dia memasuki gelanggang, anda dapat menghukumnya bila dia gagal”. Kwan Kong berkata, “Bila aku gagal anda boleh memenggal kepalaku”.

Cao Cao memintakan untuknya secawan arak panas sebelum keluar perang. Kwan Kong berkata, “Tuangkan arak itu, aku segera kembali”. Ia segera meninggalkan kemah, membawa goloknya dan meloncat diatas pelana kudanya. Mendengar suara riuh gendering dan teriakan yang memekakkan di luar pagar, mereka menjadi sangat takjub. Sebelum mereka dapat menyuruh orang untuk membawa berita, suara kerincing kelinting kuda telah terdengar dan Kwan Kong telah kembali. Ia melemparkan kepada Hwan Hiong ke tanah dan arak itu masih panas atau hangat.

Dengan semangat dan tekad beriman, dengan ajaran Nabi dan bijaksana sebagai hayatnya, dengan Kitab Chun Chiu sebagai cermin, dengan Ching Liong Eng Guat To (Golok Naga Hijau Mengejar Rembulan) di tangan dihancurkannya para perusuh-pemberontak, dibinasakan orang-orang durhaka dan penghianat, Demikianlah Panglima Kwan.

Kwan Kong dipuji karena kejujuran dan Kesetiaanya. Dia adalah lambang atau Suri taulada, Ksatria Sejati yang selalu menepati janji dan setia pada sumpahnya. Disamping itu Kwan Kong dipuji sebagai Dewa Pelindung Kesusasteraan, Dewa Palindung Rakyat dari malapetaka Peperangan.
Kwan Kong selalu berdoa   :
1. Semoga Thian selalu menjadikan insan yang baik.
2. Semoga manusia selalu mengembangkan, mengemilangkan bathin yang baik.
3. Membaca kitab yang baik.
4. Berperilaku dan berbuat hal yang baik.
5. Melanggar kebenaran dan keadilan adalah berpangkal oleh tiadanya iman.
6. Genggam teguhlah sikap Tepat tengah yang luhur yang Sari pati, Yang Esa itu dengan   ketulusan.
7. Mati hidup adalah firman. Kaya mulia adalah milik Thian/Tuhan Yang Maha Esa.

Yang Suci Kwan Kong pernah bersabda yang berbunyi  :
“Walau jalan diatas api maupun mandi minyak panas akan saya tempuh dan jalani, untuk keselamatan umat manusia”.

Maha Besar Thian. Tuhan Yang Maha Esa, Khalik Semesta Alam, yang maha tinggi, yang menaungi dan mendukung semuanya sungguh sempurna kebajikan panglima Kwan, yang penuh satya, menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, Tekun hidup sesuai Firman, memberkati dari banyak Rahmat bahagia, semoga semangat dan keluhuran budi panglima Kwan senantiasa semarak di dalam Roh Insani, menjadi rumah selamat dan jalan lurus di dalam penghidupan ini.
Wi Tik Tong Thian / Hanya Kebajikan Tuhan Berkenan.
Ham Yu Ie Tik / Sungguh Miliki Kebajikan Yang Satu.

Berikut adalah gelar-gelar kebesaran yang pernah diberikan oleh kaisar-kaisar kepada Kwan Kong  :
Hiap Thian Siang Tee/ Maha Raja Agung dan Penenteram Langit diberikan oleh Kaisar Song (120 M).
Wen Heng Ti Tie Kun / Maha Raja Kesusasteraan yang abadi diberikan oleh Kaisar Yuan Mongol.
Cung Yi Ta Tie /  Maha Raja Agung Yang Berbudi Setia diberikan sekitar tahun 1594.
Wu Shen Kwan Kong /  Kwan Kong Orang Bijak Militer diberikan oleh Kaisar Cing Manchu.
Dewa Pelindung Kerajaan.
Bu An Tay Tee / Maharaja Pembela Keamanan.

Hok Mo Tau Tee / Maharaja Penakluk Iblis

Saat ini di China Kwan Kong sudah menjadi seorang Bodhisatva sehingga nama-Nya pun menjadi CIA LAN PHU SA.

KWAN YIN / KWAN IM

Posted by: destiny4us on: Novpm08 5,2008

kwanyin

Jauh sebelum masuknya agama Buddha menjelang akhir Dinasti Han, Kwan Im Pho Sat telah dikenal di Tiongkok purba dengan sebutan Pek Ie Tai Su yaitu Dewi Welas Asih Berbaju Putih. Dikemudian hari, beliau identik dengan perwujudan dari Buddha Avalokitesvara. Secara absolut, pengertian Avalokitesvara Boddhisatva dalam bahasa Sansekerta adalah : Valokita (Kwan / Guan / Kwan Si / Guan Shi) yang bermakna “Melihat ke bawah atau Mendengarkan ke bawah”. Bawah di sini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam (lokita). Svara (Im / Yin) berarti suara. Yang dimaksud adalah suara dari makhluk-makhluk yang menjerit atas penderitaan yang dialaminya. Oleh sebab itu Kwan Im adalah Bodhisatva yang melambangkan kewelas-asihan dan penyayang. Di negara Jepang, Kwan Im Pho Sat lebih dikenal dengan nama Dewi Kanon.

Bila sudah mencapai taraf Buddha sudah tidak lagi terikat dengan bentuk apalagi gender, karena pada dasarnya roh itu tidak mempunyai bentuk fisik dan gender. Menurut cerita, Dewi Kwan Im adalah titisan Dewa Che Hang yang ber-reinkarnasi ke bumi untuk menolong manusia keluar dari penderitaan, karena beliau melihat begitu kacaunya keadaan manusia saat itu dan penderitaan di mana-mana. Dewa Che Hang memilih wujud sebagai wanita, agar lebih leluasa untuk menolong kaum wanita yang membutuhkan pertolonganNya. Disamping itu agar lebih bisa meresapi penderitaan manusia bila dalam bentuk wanita karena di jaman itu wanita yang lebih banyak menderita dan kurang leluasa dalam membuat keputusan. Dalam perwujudannya sebagai pria, Beliau disebut Kwan Sie Im Pho Sat.

Dalam Sutra Suddharma Pundarika Sutra (Biau Hoat Lien Hoa Keng) disebutkan ada 33 penjelmaan Kwan Im Pho Sat. Sedangkan dalam Maha Karuna Dharani (Ta Pei Cou / Ta Pei Shen Cou) ada 84 perwujudan Dewi Kwan Im sebagai simbol dari Bodhisatva yang mempunyai kekuasaan besar. Altar utama di Kuil Pho To San dipersembahkan kepada Kwan Im Pho Sat dengan perwujudan sebagai Budha Vairocana, dan di sisi kiri atau kanan berjajar 16 perwujudan lainnya. Perwujudan Beliau di altar utama Kim Tek Ie (salah satu Kelenteng tertua di Indonesia adalah King Cee Kwan Im (Kwan Im Membawa Sutra Memberi Pelajaran Buddha Dharma kepada umat manusia). Disamping itu terdapat pula wujud Kwan Im Pho Sat dalam Qian Shou Guan Yin (Kwan Im Seribu Tangan) sebagai perwujudan Beliau yang selalu bersedia mengabulkan permohonan perlindungan yang tulus dari umatNya. Julukan Beliau secara lengkap adalah Tay Cu Tay Pi – Kiu Kho Kiu Lan – Kong Tay Ling Kam – Kwan Im Sie Im Pho Sat.

Dalam kepercayaan Buddhisme yang berkembang pesat di China, diyakini bahwa segala permohonan yang berangkat dari ketulusan dan niat suci, maka biasanya Dewi Kwan Im akan mengabulkan permintaan tersebut. Terutama pada saat-saat genting dimana seseorang tengah berhadapan dengan bahaya. Sehingga dalam kurun ribuan tahun, pengabdian moral dari Dewi Kwan Im dikenal galib berporos empat jalan kebenaran. Yakni, pengembangan kebajikan, pengembangan toleransi dan saling hormat menghormati, pengendalian batin dan mawas diri, serta menghindarkan dari marabahaya.

Menurut Kitab Suci Kwan Im Tek Too yang disusun oleh Chiang Cuen, Dewi Kwan Im dilahirkan pada jaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun 403-221 Sebelum Masehi. Terkait dengan legenda puteri Miao Shan, anak dari Raja Miao Zhuang / Biao Cong / Biao Cuang penguasa negeri Xing Lin (Hin Lim), kira-kira pada akhir Dinasti Zhou di abad III SM. Raja Miao Zhuang sangat mendambakan seorang anak lelaki, tetapi yang dimilikinya hanyalah 3 orang puteri. Puteri tertua bernama Miao Shu, yang kedua bernama Miao Yin, dan yang bungsu bernama Miao Shan.

Miao Shu dan Miao Yin lebih cenderung dimanja oleh fasilitas istana dan berfoya-foya. Sementara Miao Shan dengan rajin menjaga dan merawat kedua orang tua mereka. Dari ketiga putri sang Raja, putri ketiga lah yang sangat berbakti kepada kedua orangtua serta leluhurnya. Ia juga memperlihatkan sifat welas asih kepada semua makhluk. Itu sebabnya ia sudah vegetarian sejak balita. Dikisahkah saat bayi bila Miao Shan mendengar kata “bunuh” akan menangis sekeras-kerasnya dan tidak mau bila diberi makan daging saat balita. Toleransinya kepada dayang-dayang istana sangat besar sehingga ia disayangi oleh semua pihak. Ia selalu mengaplikasikan bentuk-bentuk kebajikan Buddhisme yang ia pelajari dan dalami ke dalam hidup sehari-harinya.

Hal tersebut menimbulkan iri hati dan benci dari kedua kakak perempuannya, sehingga dengan intrik dan hasutan jahat bekerjasama dengan seorang peramal tua yang jahat akhirnya Miao Shan diusir dari istana. Miao Shan dituduh titisan dari iblis jahat sehingga negeri mereka yang dulunya makmur sekarang selalu dirundung bencana. Padahal bencana dan masalah datang karena banyak pejabat istana termasuk si peramal tua jahat itu terlibat korupsi besar2an, bahkan si peramal tua berambisi mengambil tahta Sang Raja. Kelompok jahat itu mengklaim sejak Miao Shan lahir bencana susul menyusul tiada henti. Kalau bukan kekeringan, pasti kebanjiran. Kalau bukan kelaparan pasti wabah penyakit. Sehingga Miao Shan dianggap jelmaan iblis yang dikutuk oleh langit.

Raja memerintahkan untuk menangkap Miao Shan dan membunuhnya. Miao San lari bersama para tahanan perang dari ayahnya dibantu oleh Jendral kepercayaan ayahnya. Begitu mengetahui hal tersebut ayahnya mengerahkan seluruh pasukan untuk menangkap mereka. Pengejaran dilakukan hingga ke tepi sebuah danau yang luas dan dalam. Pada saat mereka menemui jalan buntu, putrid Miao Shan berdoa dengan tulus agar mereka dapat selamat. Secara ajaib muncul sebuah jembatan melintasi danau tersebut kearah seberang. Akhirnya mereka pun melintasi danau tersebut. Pasukan kerajaan berhenti mengejar karena jembatan tersebut putus dan hilang ketika mereka selesai menyebrang.

Raja tidak menyuruh mereka mengejar lg karena disana banyak binatang buas dan yakin mereka pasti akan mati. Ternyata begitu sampai di pulau tersebut seluruh binatang bersujud kepada putrid Miao Shan dan membiarkan mereka lewat. Mereka menemukan tanah subur yang luas dimana mereka mulai mendirikan tempat tinggal, bercocok tanam dan mendirikan sebuah kuil tempat dimana putrid Miao Shan melatih diri.

Selang beberapa tahun keadaan raja mulai memburuk dan terkena penyakit yang membuat beliau lumpuh dan tidak bs melihat. Banyak orang pintar dan tabib sakti dari berbagai daerah telah datang dan mencoba untuk mengobati tetapi tidak ada hasilnya.

Miao Shan yang merasa iba, berkat kesaktiannya, mengubah dirinya menjadi seorang pengemis. Ia mendatangi istana, dan menjenguk ayahandanya yang terkapar sakit dengan dalih sebagai tabib. Para penjaga yang melihat penampilannya yang buruk rupa dan kotor mengusir mereka tetapi dia tetap memaksa untuk bertemu. Akhirnya keributan itu didengar oleh Ibunya dan beliau mengijinkannya untuk memeriksa dan mencoba mengobati ayahnya.
Setelah Miao Shan membacakan parita, ayah ibunya itu merasakan damai yang tiada tara. Namun dalam penyamarannya itu bukannya mengobati ia malah memberi petunjuk bahwa Sang Raja menderita penyakit aneh, dan hanya dapat sembuh jika mengkonsumsi sekerat daging manusia dan sebiji bola mata yang berasal dari tubuh putri kandungnya.

Dihadapan ibu suri dan kedua kakaknya, Miao Shan membeberkan cara pengobatan aneh itu. Di saat meminta kedua kakak perempuannya untuk berkorban diiris otot lengan dan dicungkil sebelah bola matanya untuk dicampur pada obat bagi ayah mereka, saat itu juga keduanya berlutut di samping ranjang ayahanda mereka, menangis tersedu-sedu.
“Oh, Ayahanda, kasihanilah saya Miao Shu. Saya masih memiliki anak yang masih kecil-kecil dan mereka masih membutuhkan saya untuk membesarkan mereka.”

Tak lama berselang, Miao Yin menyusul dengan kalimat bernada serupa. Kali ini tangisnya lebih deras. Tiba-tiba Miao Shan menengahi, dengan bijak ia berkata.”Baginda masih mempunyai seorang anak, kenapa tidak menanyakannya kepada dia apakah dia rela memberikan organ tubuhnya.” Saat mendengar perkataan tersebut sedihlah hatinya dan dengan berat dia berkata anakku telah mati bagaimana mungkin dia dapat menolongku.

Putri Baginda masih hidup hingga saat ini. Coba baginda utus seseorang untuk bertanya kepadanya apakah dia rela memberikan bagian tubuhnya untuk mengobati Baginda. Akhirnya Baginda mengutus sang Jendral untuk pergi mencari anaknya walaupun dia tidak berharap anaknya akan membantunya setelah apa yang diperlakukan olehnya.

Sesampainya disana, Jendral menceritakan keadaan Baginda yang sebenarnya telah diketahui oleh putrid Miao Shan. Dia langsung mengambil pisau dan segera melakukan permintaan ayahnya. Setelah mengiris sekerat otot lengan dan mencongkel sebelah bola matanya sendiri dengan belati tanpa rasa takut, dengan tenang serta penuh keikhlasan ia memberikan bagian-bagian tubuhnya itu untuk campuran ramuan obat untuk ayah ibunya.

Sang Jendral pun kembali dan segera menyerahkan bagian tubuh tersebut. Segera tabib meramu obat yang diberitahukan oleh pengemis tersebut. Saat mengaduk-aduk ramuan obat itu, terjadi keajaiban. Ramuan obat itu memancarkan harum wangi dupa dan memenuhi seluruh penjuru istana. Raja Miao Zhuang setelah meminum “obat mujarab” tersebut agar dapat sembuh dan matanya dapat melihat kembali.

Setelah meminum ramuan obat dari Miao Shan keadaan raja pulih tetapi hanya setengahnya. Jadi sebelah bagian tubuhnya aja yang pulih. Lalu dia berpikir, mungkin jika saya meminum sebagian lagi dari tubuhnya maka saya akan sembuh total. Sang raja pun dengan berat hati memanggil Jendralnya dan berkata kepadanya, “ Coba kmu minta lagi setengah bagian dari mata dan tangannya. Tetapi jika dia tidak mau memberikannya jangan dipaksa.” Sang ibu menangis mendengar permintaan raja tersebut.

Akhirnya sang Jendral pun berangkat dan sesampainya disana dia kebingungan untuk menyampaikan pesan ayahanda putri tersebut. Di sisi lain Miao Shan adalah orang yang dicintainya sejak dulu. Akan tetapi putri Miao Shan telah mengetahui maksud kedatangan Jendral tersebut dan memanggilnya. Kemarilah ikuti aku. Dengan tangannya sendiri dia mengambil sisa tangan dan bola matanya untuk dipersembahkan kepada ayahnya. Sang Jendral bersujud memberikan penghormatan dan kembali ke kerajaan. Setelah meminum setengah dr sisanya keadaan raja pulih total.

Raja yang terharu dengan pengorbanan putri yang sangat dibencinya segera menyuruh pasukan untuk bersiap dan beliau beserta istrinya langsung pergi untuk menjenguk anaknya. Betapa terkejutnya mereka melihat keadaan putrinya. Raja menanyakan apa yang diinginkan oleh Miao Shan yang masih belum dikenali oleh mereka. “Hamba tidak menginginkan bayaran apapun, hamba hanya berbuat baik untuk menyebarkan dharma dan ajaran sang Buddha.” Demikian kata Miao Shan.

“Minimal apa ada permintaan Miao Shan agar kami tidak merasa terlalu sungkan karena tidak memberikan apa-apa.” Kata Sang Raja.
Terdiam sejenak, kemudian Miao Shan melanjutkan. “Hamba sudah lama kehilangan ayah dan ibu, bolehkan hamba memeluk Baginda dan Permaisuri sehingga kerinduan akan ayah-ibu bisa terobati?”
“Dengan diiringi oleh tangis keduanya, mereka berucap, “ silahkan.” Sahut sang Raja dan istrinya..

Miao Shan menunduk dan menghampiri ayah bundanya itu, setelah bersujud di pelukan Raja ia kemudian berpindah ke pelukan permaisuri dengan airmata berlinang dan suara isak tangis. “Ibu, maafkan anak yang tidak berbakti” demikian Miao Shan berbisik. Mereka menangis dan Miao Shan yang telah mencapai kesempurnaan menyembuhkan dirinya, kedua matanya kembali dapat melihat dan tangannya kembali tumbuh seperti sedia kalah. Betapa senang hati orang tuanya melihat keadaan tersebut.

Sejak itulah kebajikan dan keluhuran budi Miao Shan menjadi legenda di tanah Tiongkok. Ia menggugah ketulusan tanpa pamrih, pengorbanan tanpa batas, sifat welas asih yang tiada tara, dan masih banyak lagi kemuliaan yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Setelah peristiwa fenomenal tersebut, Miao Shan tetap bertekad melanjutkan pertapaannya dengan menjadi biksuni sepanjang hidup dan pengabdiannya. Meski berat hati, tapi Raja Miao Zhung dan permaisurinya merelakan putri bungsunya tersebut, memaklumi niatnya untuk mengabdi bagi kemanusiaan.

Akhirnya kedua kakaknya beserta ayah dan ibunya mempelajari agama Budha. Dan seluruh istana mempelajari ajaran Welas Asih mengikuti putri Miao Shan.
Untuk mengenang putri bungsunya tersebut, Raja Miao Zhung memerintahkan pekerja seni rupa terbaik di negerinya membuat patung berwujud putri Miao Shan dan mendirikan vihara Dewi Kwan Im pertama di Pho To San.

“Putri saya, Miao Shan, ibarat memiliki seribu tangan untuk membantu sesama dengan tulus serta ikhlas, dan seribu mata yang peka melihat penderitaan rakyat jelata!” demikian kata Raja Miao Zhuang dalam nada bangga, yang ternyata salah ditanggapi oleh para pemahat arca istana. Arca rampung dengan memiliki simbolisasi seribu tangan dan seribu mata. Itulah awal ihwal Miao Shan yang melegenda menjadi Qian Shou Guan Yin (Dewi Kwan Im Seribu Tangan).

Dikisahkan ketika Miao Shan berhasil mencapai pencerahan menjadi Buddha, saat hendak memasuki gerbang Nirwana ia mendengar banyak tangisan penderitaan dari alam manusia di bawah. Ia kemudian membatalkan memasuki Nirwana dan memilih berada di alam manusia untuk membantu setiap makhluk hidup. Ia senantiasa menyingkirkan segala macam penderitaan dan menumbuhkan kebahagiaan dengan mewujudkan permintaan kesejahteraan kaum papa.

Turun temurun masyarakat Tionghoa sangat menghormati Dewi Kwan Im. Hampir di setiap rumah penganut Konfusiunisme dan klenteng-klenteng pasti memiliki rupang atau diorama puja untuk mengenang jasa dan kebaikanNya.

kwanyin21

Tags: , , , , ,

INFO

Posted by: destiny4us on: Augpm08 5,2008

Hai….

Salam kenal …

disini aku ingin memberikan sedikit info tentang bisnis online….

cukup klik disini http://www.reality-networkers.com/index.php?refid=1948470

free to join n cukup dengan 5 downline saja maka kamu akan mendapatkan $ 20 ke kantongmu

so jangan tunggu lagi ….

or klik disini http://michaelmails.com/pages/index.php?refid=seizy

kamu dapat dollar dengan mengklik iklan yang tersedia dan bisa payout untuk free member cukup dengan $ 200.000 saja …

mudah kan!!!!

HAI!!! NICE TO MEET YOU ALL….

Posted by: destiny4us on: Maypm08 5,2008

Hai! ini post pertamaku… sorry ya klo masih banyak kekurangannya. “Slowly but sure” this my prinsip. Yah buat sementara sih mungkin blog ini tampak membosankan… namanya juga baru pertama kali…. so for all of you please dont forget my first blog n me berjanji blog ini pasti akan menjadi lebih baik lagi kelak….

But, blog ini tidak akan bisa maju tanpa bantuan kalian semua… So aku tunggu ya komentar-komentarnya….

Read the rest of this entry »

Hello world!

Posted by: destiny4us on: Maypm08 5,2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Blog Stats

  • 509 hits

Top Posts

 

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories